Saturday, February 7, 2009

Demi Slank


Rencananya, pekan depan kita akan nonton premiere-nya Generasi Biru di Setiabudi21. Gratisan dari Rolling Stone. Tentu saja yang keinginannya membara adalah gw, hihihi.

Sebetulnya gw rada cemas juga soal kelangsungan rencana ini pada saatnya tiba. Soalnya Hil gak kunung berani membawa Senja ke bioskop. Padahal gw udah ngiler aja kalo dengerin Tika yang bawa Sabai alias Abigail ke bioskop. Di bayangan gw siy ya mulus aja. Kita beli tiket yang duduknya paling belakang dan deket pintu. In case of emergency, ya tinggal kabur dan meninggalkan film. Rasanya sih gak akan terlalu berat, secara gw dan Hil juga gak pernah nyari bioskop yang muahil-muahil amat, hihihi.

Out of the blue, Hil yang puny aide untuk melatih Senja dengan suasana bioskop. Tuh curang banget kan. Giliran dia yang kepingin, langsung dijabanin. Perasaan gw udah lamaaaaaaaa banget pingin ngajak Senja ke bioskop, tapi gagal karena Hil-nya gak pede.

Tapi yaaaa karena ini menguntungkan gw, hayuhhhhh. Dengan semangat membara, kita langsung ngecek situs 21. Pilihan strategis adalah nonton di Arion. Deket dan murah meriah, karena tiket bioskopnya cuma 10 ribu perak. Lalu kita cari lah film yang kalo-kalo kita tinggalin di tengah-tengah, kita gak akan berasa terlalu rugi. Lalu diliat waktu filmnya juga, kalo bisa pas Senja jam tidur siang gitu.

Pilihan yang ada: Asmara Dua Diana, Sepuluh dan.. Hantu Jamu Gendong. Keiekeiek. Pilihan ketiga jelas dicoret dengan spidol besar. E m o h. Kalo buat tolol-tololan doang sih mendingan nonton Asmara Dua Diana, tapi secara waktu dia terlalu sore mulainya. Oke, kita nonton Sepuluh lah, film anaknya James Riady yang kata Hil ongkos bikin filmnya 10x lipat film biasa.

Oke. Beli tiket, gak yang paling belakang. Dua dari paling belakang. Tapi di sisi yang paling deket lorong, biar gampang kabur. Okeh, kita masuk ruangan bioskop.

Senja gak menunjukkan tanda-tanda ngantuk sama sekali. Santai aja di boncengan, malah cenderung seru banget. Pas lampu bioskop masih nyala, dia sibuk ngegandeng Hil untuk jalan naik turun tangga. Haiyah. Begitu mulai dimatiin, kita semula khawatir Senja takut karena tiba-tiba kan gelap gitu.

Eh ternyata enggak. Di bangku, dia malah berdiri-diri. Waduuuuuuh. Pastilah dia excited luar biasa karena ini ruangan aneh buat dia. Tadinya nyala, terus gelap. Trus ada layar segede gambreng di depan mata. Apalagi Senja kan juga suka terpana di depan tivi gitu. Cocok dah tuh.

Gw langsung menerapkan langkah koncian: menyusui. Harapannya adalah Senja tidur sambil menyusui.

Tentu tidak dongs.

Sembari menyusui, dia masih sibuk gerak sana sini. Kaki nendang-nendang, tangan pukul-pukul. Dikit-dikit, narik mulutnya dari t*k*t karena penasaran sama suara-suara berisik di sekelilingnya. Jadialah dia berdiri-diri lagi di kursi, sambil cengengesan ke arah bangku belakang karena di situ ada anak perempuan kecil.

Dwoooohh.

Film mulai. Gw udah nyusuin Senja sampe 3x, teteeeuup bow Senja gak tidur-tidur. Hhhhh. Senja gelisah dong karena dibekap terus-terusan. Jadilah dia protes, maunya ngajak Hil naik turun tangga lagi. Mulai deh ngajak Senja kabur ke luar bioskop. Kayaknya sempet dua kali bolak balik dan teteuuup Senja gak bisa ‘ditundukkan’, hehiheiheiehi.

Berhubung gw kedinginan dan film Sepuluh berjalan dengan saaanggaattt laaammbatttt, jadilah gw yang jalan-jalan bawa Senja ke luar bioskop. Kalo Hil mau nonton sampe abis, gapapa deh, gw jalan-jalan aja di Matahari-nya Arion. Paling juga gempor kalo mesti ngegendong Senja terus-terusan.

Eh gak lama Hil juga keluar. Hihihi, jadinya kita cuma jalan-jalan di Matahari dan Gunung Agung sama Superindo doang. Filmnya? Lupakan saja. Untuuuuung nonton di Arion cuma 10 ribu perak. Gak rugi-rugi amat lah, kekekek.

No comments: