Sunday, March 27, 2011

Romantis?

Setiap tahun, kami bertiga memang mengusahakan untuk liburan bersama. Dimulai dari 2009 ke Bandung, lantas 2010 ke Malang dan tahun ini ke Yogya.

Kenapa mesti liburan bareng? Di momen ini gw dan Hil pasti ambil cuti lah, supaya bisa menjelajah kota lain bareng Senja. Makanya dimulai pada 2009, pas Senja udah umur 1 tahunan lebih. Pas mulai pun juga yang deket-deket aja, makanya pilih ke Bandung. Berlibur pastilah baik demi kesehatan jiwa kami, juga menantang diri kami dengan suasana baru dalam kondisi bertiga doang.

Liburan bareng ini selalu di bulan Maret. Karena di bulan ini ada dua hal yang dirayakan yaitu ultah Hil 30 Maret dan anniversary kami 31 Maret, iihiiyyy.. Dulu pun hari pernikahan sengaja dipilih 31 Maret, karena by that time jeda umur gw dan Hil bukan 2 tahun (seperti selisih tahun lahir Hil dan gw, yaitu 1980 dan 1978), tapi secara faktual jeda umurnya 1,5 tahun. Penting banget kaaaaannn... kikikikik.

Suatu ketika beberapa pekan lalu, sempet ngobrol sama Mirana soal ini. Begitu dia tau kalau kami selalu liburan bareng setahun sekali, Mirana langsung menjerit,"Ya ampuuunn elu romantis banget sih!"

Nah gw yang bingung. Mosok begitu romantis. Apa iya romantis ya? *blushing*

Tahun Ini: Yogya

Besok berangkat nih kita ke Yogya, yippieee...

Kali ini pilihannya ke Yogya, dan ini ditentukan ketika kita plesir tahun sebelumnya ke Malang. Iseng-iseng pakai Air Asia, dapet. Entah lah ini sebenernya harga murah banget atau enggak, atau biasa aja. Yang jelas itu tiket udah dibeli sejak Mei 2010, blah :)

Karena pas ke Malang itu hampir seluruhnya yang ngurus adalah Hil, maka tahun ini semua gw yang ngurus. Tentunya berdiskusi dulu dong sama Hil. Keputusan sementaranya sih gini:

- PP: pesawat, Air Asia, berangkat Senin 28/3, pulang Kamis 1/4
- Hotel: Jentra Dagen via booking.com
- Agenda: hari pertama Ambarawa + Borobudur, hari kedua keraton dll + acara buku, hari ketiga Taman Pintar dan belum tau apa, hari keempat pulang

Itinerary perjalanan udah gw bikin selengkap mungkin, lengkap dengan rute TransJogja :)

Semoga liburannya bakal cihuuuyy

Kan Udah Pinter

Waktu mendapati Senja gambar pesawat yang hebat banget itu, gw tiba-tiba kepikiran, jangan-jangan emang Senja doyannya gambar, bukan musik yak.

Lalu gw iseng tanya.

C: Senja mau gak kalau ikut kelas gambar?
S: Nggak.
C: Kenapa?
S: Banyak anak-anak lain, aku nggak suka.
C: Kalau yang ngajarin datang ke rumah, mau? *teringat Ikhsan yang begitu*
S: Nggak mau. Kan aku udah pinter. Nggak perlu ada yang ngajarin lagi.

Lhaaaaaa..

Kelas Musik Kelima

Ada satu kesalahan besar yang terjadi pagi ini terkait kelas musik. Yaitu, kami bangun terlambat, hihihi.

Kita bertiga baru bangun jam 8 pagi teng. Artinya, tinggal 45 menit waktu tersisa buat persiapan karena kelas musik mulai jam 9. Wedeeww..

Kesalahan lainnya adalah kurang woro-woro dari beberapa hari sebelumnya kalau kita hari ini akan kelas musik. Mengapa ini perlu? Karena Senja kalau ditanya selalu bilang 'kelas musik nggak asik!'

Jadilah kita bangun terbirit-birit, terus mesti menghadapi Senja yang ngambek gak mau ke kelas musik. Seperti biasa dia gitu deeh, dia ngotot dengan bilang 'Aku maunyaaa.. ' dan yang tadi dia sebutin adalah dia maunya ke Pasar Gembrong dan supermarket.

Mengapa ke Pasar Gembrong? Soalnya semalam sebelumnya abis nonton di YouTube, ada feature pendek soal bapak tua yang jualan mainan truk dari kayu yang di daerah Pasar Minggu itu lho. Nah ada salah satu gambar yang menunjukkan semua jualan dia. Waktu itu gw bilang ke Senja,'Wah Senja kalau ada di sana pasti bingung ya mau pilih yang mana...' Lalu dia bilang,'Aku truk kan udah punya. Eh tapi bis belum!' dengan nada riang gembira.

Lalu mengapa ke supermarket? Karena gw bilang sama Senja, kalau kita abis dari kelas musik mau ke supermarket. Gw emang butuh beli beberapa toiletteries untuk persiapan ke Jogja, Senin.

Jadilah dia ngotot maunya ke Pasar Gembrong dan supermarket aja, bukan ke kelas musik. Teorinya dia gini,"Kita ke Pasar Gembrong, kita liat udah buka atau belum? Kalau belum, kita pulang lagi. Tapi nggak ke kelas musik."

Gw dan Hil mencoba membujuk dong. Kita pura-puranya telfon ke pedagang di Pasar Gembrong yang menginformasikan bahwa 1) kalau ke pasar harus ke kelas musik dulu dan, 2) pasar baru buka sekitar jam 10, setelah kelas musik berakhir. Mempan? Enggak.

Jadilah kita berangkat dengan Senja berpikir kita ke Pasar Gembrong dulu, hehe.

Tempat les musik Senja itu di Cipinang Indah. Nah dari arah rumah gw, ke arah jalan baru (Casablanca), lalu belok kiri, nyebrang jembatan BKT ke arah Cipinang Indah. Di jembatan itu kita berhenti, sok menerawang jauh ke depan sambil berkata,"Senja, aku bisa liat dari sini, Pasar Gembrong belum buka. Kita nunggunya di kelas musik aja yuk!' (dengan nada di-gembira-gembira-kan, padahal cemas, hhihi)

Jadilah kita ke kelas musik. Senja diem aja sih. Trus Hil yang nemenin. Gw gelisah dong di luar. Senja ngambek atau enggak? Senja seneng atau enggak? Bla bla bla. Karena Senja agak telat dateng, jadinya dapat electone yang paling belakang. Mestinya sih itu nyaman buat dia, karena concern dia dengan kelas musik kan kehadiran anak lain. Kalau dia duduk paling belakang, anak lain gak ada yang ngeliat ke arah dia dooong...

Kalo kata Hil sih Senja tetep pemalu di kelas. Belum gw caritau lagi lebih lanjut, yang penting kelar dulu lah kelas musik itu hari.

Apakah ini gw dan Hil tengah memaksakan kehendak kami terhadap Senja supaya tetap ikut kelas musik?

Semula gw khawatir begitu. Tapi gw curiganya sih enggak. Karena begini. Sampai di rumah, kita setel lagi CD yang diputar di kelas musik. Senja seneng-seneng aja tuh. Ikut joget bareng gw dan Hil. Bisa niruin beberapa lagunya. Trus yang ajaibnya lagi, ada satu lagu yang baru sekali dia denger di kelas, dan dia udah inget beberapa kata di lirik lagu itu. Gw sampe pandang-pandangan sembari melotot takjub ke Hil: iiihhh dia hebat bangeetttt...

Jadi bagaimana ini sebaiknya mengatasi Senja yak? Karena kan concern dia bukan soal 'belajar musik tidak menyenangkan', tapi karena kehadiran anak-anak lainnya ituh. Lah mosok les privat? Gw khawatir kalau me-les-privat-kan Senja sejak dini, dia malah makin gak terpancing untuk berteman dengan sesama anak kecil lain.

Wedeewww.. gimane nih yeeehh..

Friday, March 25, 2011

Kelas Musik

Pekan ini adalah kelas musik Senja yang kelima. Sejauh ini, progress Senja begini: masih pemalu, hehe.

Gw nemenin Senja baru di kelas ketiga dan keempat. Kelas pertama dan kedua, sama Hil.

Pas di kelas keempat, Senja hanya mau ngikutin perintah guru itu ya di 15 menit pertama lah kira-kira. Pas nyanyi 'Halo' di awal, lalu disuruh tunjuk tangan, trus beberapa perintah lainnya. Sisanya, ogah-ogahan. Dia cenderung mengamati gimana perilaku teman-teman sekelasnya.

Padahal di kelas keempat itu gw sengaja pilih tempat duduk paling depan. Supaya Senja gak gampang ke-distract, eh tarnyata gak ngaruh.

Senja juga belum berani kalau ke depan kelas sendirian. Ada sesi yang mengharuskan anak-anak maju ke depan. Ada banyak anak yang berani sendiri, meskipun ada juga yang malu-malu seperti Senja. Gw masih harus nemenin di depan dan menggerakkan anggota tubuh Senja supaya mau ikut gerak. Udah gitu pun belum tentu Senja mau. Senja biasanya menolak digerak-gerakin gitu, atau melarang gw menirukan gerakan.

Pas kelas masih sisa 10 menit lagi, Senja mengaku bosan. Dia emang keliatan udah gak konsen gitu. 'Kok gak selesai-selesai' gitu dia pernah bilang.

Dia baru semangat lagi pas sesi terakhir, karena selalu bagi-bagi stiker. Hihihi.

Semoga di kelas kelima ini Senja makin nyaman berada di tengah anak kecil lainnya.

Ngeles

Salah satu hal yang mesti diperbaiki dari Senja adalah kebiasaan dia untuk langsung bilang 'Nggak bisa' atau 'Aku butuh bantuan' setiap kali ada tantangan baru. Biasanya harus dibujuk mutar-muter dulu supaya akhirnya mau.

Kayak waktu itu, lagi sama-sama ngerjain tugas di Majalah Bobo.

Biasa dong, di bagian awal ada paragraf penjelasan dulu. Tugasnya adalah menggambar mengikuti titik-titik yang sudah disediakan.

Senja langsung bilang 'nggak bisa'.

Gemes gw. Gw bilang ke dia,"Lho, Senja, di sini tulisannya itu begini: anak kecil harus berani mencoba," kata gw sambil nunjuk ke bagian paragraf penjelasan. Tentunya gak ada dong tulisan kayak gitu.

Trus Senja bilang. "Nggak, di situ kan tulisannya... (sambil nunjuk ke paragraf yang sama): Orang dewasa harus membantu, anak kecil tidak coba. Gituuu..."

Duileeeeee.. ngelesnyaaahh..

Abis itu kita terusin tugasnya. Gw bantuin Senja dikit. Trus dia mogok lagi. 'Aku butuh bantuan,' kata dia. Oke gw bantu, tapi pakai syarat. 'Abis itu Senja coba lagi sendiri ya.'

Dia ngeles lagi. 'Nggak. Kan di situ tulisannya: anak kecil harus dibantu, gitu Buunn...'

Hihihihihihihi.

Bu Guru

Sudah dua malam ini sebelum tidur Senja minta main kelas-kelasan. Gw jadi bu guru dan Senja jadi murid. Seketika Senja akan manggil gw 'bu guru'.

Wuih Senja jadi murid maniiisssss banget. Pas gw 'berdiri di depan kelas', maka Senja akan mendekat dan bertanya,'Boleh aku maju?' Atau 'boleh aku membantu'? Widih jatuh cinta banget dah.

Senja senang ngikutin sesi ini. Dia akan ikut menyanyi. Tapi juga tetep akan bilang 'aku butuh bantuan' atau 'aku kan nggak bisa' kalau disuruh melakukan sesuatu yang baru.

Pas selesai kelas, kita selalu berpelukan. Abis itu gw tanya ke dia, soal sekolah.

C: Senja mau sekolah nggak?
S: Nggak. Sekolah nggak enak.
C: Lho kan Senja suka kelas Ibun. Kalau sekolah TK kan sama aja.
S: Nggak suka TK.
C: Karena apa?
S: Karena banyak anak-anak.
C: Emang anak-anaknya jahat?
S: Iya!
C: Mereka ngapain Senja?
S: Ngeliatin Senja.
C: Ngeliatin kan nggak jahat, sayang. Itu tandanya mereka mau kenalan sama Senja.
S: Nggak mau. Kalau kelasnya di sini, Senja suka.

Walah walaahh.. kepiye ini?!

Pesawat


Seperti biasa, malam ini kita main kelas-kelasan. Gw jadi bu guru dan Senja jadi murid. Dia selalu bersemangat kalau lagi role play ini.

Yang jadi papan tulis adalah tutup box plastik, trus gw sambil pegang itu tutup box, pegang kertas. Trus Senja minta gambar. Setelah berpikir lama, dia memutuskan ingin gambar pesawat.

Seperti biasanya Senja, dia akan pertama bilang 'gak bisa', atau 'butuh bantuan'. Gw mendorong dia untuk mencoba. Dengan suara maniiisss sekali gw berperan sebagai bu guru dan meminta Senja menggambar sendiri.

Senja mengangguk tanda setuju. Dia bilang,'Tapi aku nggak bisa gambar pesawat,'

Kebetulan hari itu Senja pakai piyama ada gambar pesawatnya. Jadi gw minta dia untuk meniru gambar yang ada di piyama.

Jadilah Senja mengambil spidol. Lalu mulai menggambar. Mukanya seriuuuuuuussss banget. Mulutnya sampai monyong-monyong. Dia menggambar pelan-pelan, hati-hatiiii sekali.

Mula-mula dia gambar badan pesawatnya. Lalu dia gambar sayap bagian belakang. Abis itu dia gambar bagian kokpit. 'Ini untuk pilotnya. Keciiiiil,' kata dia. Setelah itu dia selesai. Eh ternyata belum. Dia menambahkan lagi garis, satu di sisi atas, satu di sisi bawah. Itu sayap kiri kanan ceritanya. Lalu dua garis lagi di bagian depan, dekat kokpit.

Setelahnya Senja menjelaskan gambar ini. 'Ini pesawat. Yang di depan itu baling-baling. Yang di belakan gitu sayap belakang. Yang ini sayap di samping.'

Luar biasa. Senja hebat sekali!

Monday, March 14, 2011

Kena Gunting

Senja lagi seneng banget menggunting segala macem. Dia punya dua gunting kecil yang selalu dipakai. Satu adalah gunting putih yang ujungnya tumpul, satu paket dia sebetulnya sama gunting kuku. Lalu satu lagi gunting kecil warna hijau, entah dari mana dia datangnya.

Karena di tontonan I Can Cook itu diajarin cara pegang pisau yang aman, maka itu gw terapkan juga ke Senja. Senja gak boleh lari-lari sambil bawa gunting, juga harus mengarahkan gunting itu ke lantai.

Eh ternyata lolos juga. Gw pulang dari rumah, Senja udah pakai tensoplast aja. Jarinnya sempet kena gunting. “Tapi Senja nggak nangis,” kata si Ibu.

Senja lantas memperlihatkan tangannya yang kena gunting, dan udah kena tensoplast itu. Wajahnya anteng. Widih hebaattt..

Pas sikat gigi malam, dia minta tensoplastnya dibuka. “Udah sembuh,” kata dia. Iya deeehh..

Sunday, March 13, 2011

Tantrum

Gw rasa Senja sekarang punya kecenderungan tantrum. Kalau baca di internet, tantrum itu biasanya di anak usia 2-4 tahun. Karena energi tinggi, keinginan banyak, tapi vocab terbatas, jadinya suka susah mengungkapkan apa yang dia mau.

Biasanya Senja mulai ngamuk itu kalau ada keinginannya yang gak dipenuhi. Sepele. Dia maunya jalan sendiri, bukan diangkut alias digendong. Padahal saat itu dia lagi lari-lari, dalam kondisi badan basah abis mandi. Karena khawatir kepeleset, ya diangkut.

Atau kejadian lain lagi. Abis mandi sore, dia maunya pakai piyama. Hil bilang, ini belum mau tidur, jadi pakai baju biasa aja. Ya udah abis itu mulai ngamuk. Maunya pakai piyama. Kalau diambilin piyama, ya belum tentu trus diem. Nanti diambilin piyama yang satu, dia akan ngamuk lagi sambil bilang,”Aku maunya piyama yang lain.” Trus ntar diambilin yang lain, dia akan ngeyel lagi.

Atau misalnya dia abis salah ngelempar-lempar barang di sebelah, trus gw angkut ke kamar. Gw bilangin dengan nada datar kalau itu tidak baik, dan Senja nggak boleh ulang. Kalau diulang lagi, ya gw angkut lagi ke kamar dan gw bilangin lagi. Biasanya di saat itulah dia akan mulai ngamuk. Kalo lagi ngamuk ya jadi mengada-ada gitu. Pesawat mainannya jatoh, maunya gw yang ngambilin. Udah gw ambilin, dia maunya gw berdiri. Gw udah berdiri, dia maunya gw gak nempel tempat tidur. Gw udah gak nempel tempat tidur, dia maunya digendong. Haddeeeeehh..

Kalau dia udah mentok, maka dia akan bilang,”Maunya sama Ibun.” Padahal di saat itu misalnya dia lagi sama Hil dan gak diapa-apain. Jadi ya mestinya dia mau aja dong sama Hil. Kalau trus gw datang, maka ya lagi-lagi belum tentu Senja akan tenang. Ada aja maunya dan dia selalu akan mengawali dengan,”Aku maunya...”

Kalau udah gini biasanya gw dan Hil gak ngapa-ngapain. Gw bilang sama Senja, kalau kita akan tunggu sampai Senja tenang. Kalau Senja terus merengek, tidak ada yang mengerti Senja maunya apa. Dan bahwa tindakan itu jelek.

Anteng? Belum tentu. Bisa jadi dia tambah ngamuk karena dia tau dia gak didengerin. Jadi ya ditunggu aja sampai tenang. Caranya? Didiemin. Apakah Senja diem? Ya nggak dong.

Biasanya badai akan berlalu setelah 15-20 menit. Setelah itu ya anteng aja. Sekali waktu pernah abis ngamuk gitu, Senja ya anteng aja dengan suara yang baik gitu mau ngerjain apa yang dari tadi dia tolak. Atau trus ketiduran setelah tenang, lalu gw ajak bicara soal apa yang tadi membuat dia ngamuk.

Rasanya Senja nggak pernah ngamuk gitu kalau lagi sama bokap-nyokap atau si Ibu. Menurut gw sih wajar aja, karena Senja cenderung diikutin maunya demi menghindari konflik berkepanjangan. Atau cara klasik, sesuatu yang bikin Senja rewel itu diumpetin. Atau cara klasik lainnya, mengalihkan perhatian Senja ke sesuatu yang lain.

Kami gak pingin begitu aja. Kami pingin Senja belajar sebab-akibat. Kalau melempar barang, akibatnya dimarahin. Kalau memukul orang, akibatnya dihukum. Karena sebelumnya kita juga udah ngasih tau ke dia kalau hal-hal tersebut gak boleh. Dan dia tau itu, keliatan kok dari matanya kalau Senja ngerti ketika dikasih tau sesuatu. Cuma ya suka ngeyel aja. Meskipun lagi dimarahin karena abis mukul, maka ketika gw kasih pertanyaan ‘ya-tidak’ soal ‘apakah memukul itu baik atau tidak’, maka dia akan ngotot jawab ‘baik’, karena dia tau itu bukan jawaban yang gw mau.

Gw masih akan mencari lebih banyak informasi seputar gimana ngatasin dan menghandle anak ngamuk kayak gitu.

Tuesday, March 8, 2011

Ikan Kelangkang


Ini ikan ciptaan Senja. Namanya ikan kelangkang. Makannya gurita. Tidak butuh mata. Tidak butuh ekor. Punya sirip. Bagus yaaa...

Monday, March 7, 2011

Ikan Lampu

Ini ikan lampu buatan gw. Gak nyangka, gw bisa juga berprakarya kayak gini. Perasaan pas dulu SD benci banget pelajaran prakarya :)

Saturday, March 5, 2011

Bermain di Kidsport Pondok Indah

Hari ini panjang bener dah. Dan capek, huhuhu.

Berangkat dari rumah jam 9 pagi, menuju ke Pondok Indah. Beuh, total tuh jauhnya dari Pondok Bambu ke Pondok Indah. Apalagi ini pake bis. Sengaja sih, karena pingin ngajak Senja ‘sengsara’ dikit, hihihi. Mosok ke mana-mana pakai taksi melulu.

Sengaja juga gak berangkat bareng bokap-nyokap, karena udah terlanjur ngejanjiin Senja kalau kita akan ke Pondok Indah pakai bis gede. Tepatnya sih pakai bis Patas AC 16, dari Rawamangun, berhenti persiiis di depan PIM.

Tapi ada apa di PIM? Gak di PIM-nya sih, tapi di Kidsport, sebelahnya PIM I. Hil dan Mas Yudhi ada urusan kerjaan, sementara gw dan Senja dan kakak gw dan Pelangi, memanfaatkan momen aja. Jadilah ditentukan Kidsport sebagai meeting point.

Ini kali pertama gw ke Kidsport. Bayar Rp 50.000, si anak harus pakai kaos kaki, begitu juga pendampingnya. Secara gw lagi pakai flat shoes dan nggak tau aturannya, jadi beli kaos kaki deh, Rp 12.000,-

Begitu masuk ke dalam, wooo kayak gini toh. Asik juga. Tapi sebagaimana gw mengerti Senja, tempat ini pasti rada bikin stress buat doi, karena ada banyak anak-anak kecil lainnya.

Atas nama pemanasan, gw ajak Senja berkeliling dulu untuk mengenali lokasi. Abis itu baru gw temenin main di satu dua permainan. Yang cemen-cemen dulu aja lah, namanya juga pemanasan. Pas diajak main kolam bola pun, Senja maunya kolam bola yang sepi.

Begitu datang kakak gw dan Pelangi, barulah kita lari-larian di tempat ini.

Pelangi dan Senja memang dua individu yang sangat berbeda. Pelangi itu lebih pemberani, juga ugal-ugalan gitu kalo main, hihihi. Sementara Senja lebih pemalu, apalagi ini tempat baru. Tapi pas lagi tahap awal main sama kakak gw dan Pelangi, Senja sempet ‘lupa diri’ dan melupakan ketakutannya. Ini terbukti dengan Senja mau meluncur sendirian di peluncuran yang lumayan panjang. Di ujung bawah memang disambut sama kakak gw, di atas pun dijagain gw. Dan ini luar biasa banget buat seorang Senja, hehe.

Karena setelahnya, baru deh Senja ‘sadar’ kalau itu tuh menakutkan. Jadilah abis itu dia mulai menahan diri. Misalnya, dia nggak mau kalau diajak naik tangga yang ke atas. Kalaupun mau, ya Cuma sedikit, trus balik lagi. Gw gak ngepush Senja juga, kasian ntar dia stres. Jadinya ya gw ngikutin dulu aja maunya dia apa.

Jadi lah di satu titik, dia sempet down, tidak pede menempuh suatu permainan, berhenti dan menangis. Gw tenangin Senja di situ. Gw bilang sama Senja kalau Senja tidak mau main di sini, tidak apa-apa. Senja maunya gw ikutin semua yang dia kerjain, sementara kan gw juga mau Senja bisa main sendiri dan jadi anak pemberani. Tapi ya sudah, gak usah dipaksain. Kita seneng-seneng aja.

Setelah Hil kelar urusan sama Mas Yud, gantian Hil yang main. Gw sengaja ngumpet. Karena kalo ada gw, kecenderungannya Senja jadi manja banget. Jadi gw sengaja ngaumpet aja, biar Senja ‘terpaksa’ berani dan main bareng Hil.

Abis itu sekitar jam 14-an, kakak gw dan Pelangi dan Mas Yud pulang. Bokap-nyokap yang nyusul belakangan, juga pulang. Soalnya gw dan Hil dan Senja emang masih mau jalan-jalan lagi. Jreng jreng.. kita ke Gandaria City. Hahaha, gak ada niat lain selain iseng. Gak ada niat belanja, Cuma pingin tau aja Gandaria City kayak apa. Begitu sampai di dalamnya sih gw kembali dengan keheranan gw dengan banyaknya mal di Jakarta. Kalau semua mal isinya sama, kenapa mesti bikin banyak-banyak coba?